OPEN

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA & TINGGALKAN CATATAN KECIL UNTUK KAMI

Thursday, July 21, 2011

KARAMBOL - Permainan rakyat

Mungkin teman-teman dikota sudah jarang menemukan permainan ini. Bahkan mungkin belum pernah mendengar dan memainkannya. Permainan ini disebut permainan karambol. Dalam bahasa Inggris biasa disebut pocket charom.

Permainan karambol ini cukup mudah, hanya butuh kesabaran dan ketepatan. Karambol hamper mirip dengan billiyard atau bola sodok. Hanya karambol dimainkan diatas papan yg mirip meja billiyard dengan hanya 4 lubang. Bolanya menggunakan bidak-bidak koin sebagai sasaran dan bola gacoannya. Sama memiliki 2 jenis koin yg berbeda yg harus dimasukkan oleh para pemain yg saling bermusuhan. Jumlah koin ada 22 buah dengan 10 buah berwarna merah, 10 buah lainnya berwarna biru, serta 1 koin sebagai raja dan 1 lagi sebagai gacoannya.

Permainan ini sempat cukup popular pada awal 90’an hingga awal 2000’an. Dimainkan hamper disetiap pos ronda. Permainan ini dijadikan teman setia saat jaga ronda, pengganti permainan kartu remi dan gaple atau domino.

Saya sudah lama bermain karambol, dan lama kelamaan menjadi tahu kenapa permainan ini favorit saat bertugas ronda dimalam hari. Karena permainan ini seru dan lama untuk mengakhiri setiap game nya. Apabila setiap pemain melakukan kesalahan maka akan mendapat minus satu dan harus dibayar dengan koin mereka yg sudah masuk lubang. Begitu seterusnya hingga pemain bias menang tanpa minus. Sehingga permainan ini akan susah untuk diselesaikan. Bahkan karambol rata-rata bias menyelesaikan satu permainan bias mencapai 1 hingga 3 jam. Sehingga para petugas ronda akan selalu terjaga hingga pagi.

Tapi sepertinya permainan ini sudah mulai luntur. Jarang anak muda yg mau atau mengenal permainan ini. Atau mungkin juga dikarenakan anak-anak muda jaman sekarang sudah tidak mengenal istilah ronda. Atau yg lebih para anak muda lebih sibuk menyenangkan dirinya sendiri ketimbang gotong-royong menjaga keamanan lingkungannya sendiri.

Tapi diluar kekurangan anak muda jaman sekarang, saya patut kembali mempromosikan karambol. Sudah hamper punah tapi masih mengasikkan. Permainan yg penuh ketegangan tapi murah meriah muntah. Bulan ini saya bertanya ke pedagang yg menjual perlengkapan ini. Saya mendapat harga untuk papannya hanya 60ribu yg bisa bertahan tahunan. Lalu bidaknya sepaket hanya 15ribu.

Tidak ada permainan semurah ini yg bisa memeriahkan suasana dan merangkul segala kelas social masyarakat. Dari orang yg tiap hari mengutang bisa bermain bersama pejabat daerah. Tidak ada aturan untuk siapa yg bermain. Selama mereka siap kalah dan berani menang, boleh duduk bersama dan menghancurkan tatanan bidak yg berada di tengah.

Sekian.. Salam permainan dari desa…



Oleh : Damian Risandra

Foto : Damian Risandra

Tuesday, June 14, 2011

Sebagian Kecil Keindahan Indonesia


Anda tidak perlu membuat sebuah pasport untuk menikmati keindahan pantai sadranan, karena pantai ini masih berada di Indonesia. Mungkin, sekilas tidak pernah ada di benak anda bahwa Indonesia memiliki pantai indah berpasir putih seperti pantai sadranan. Letaknya kurang lebih 70 km di selatan Yogyakarta, tepatnya di daerah Wonosari, Gunung Kidul. Dapat ditempuh dalam 2 jam perjalanan darat dari Yogyakarta.

Letak pantai ini sedikit tersembunyi di sisi timur pantai sundak, jadi wisatawan yang berkunjung cukup sedikit. Kita bisa dengan leluasa untuk bermain-main pasir, berlarian di tepi pantai, bermain air dan berenang dan pokoknya serasa ini pantai milik sendiri. Pantai sadranan termasuk salah satu pantai yang cukup bersih dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Gunung Kidul, hal ini juga didukung sediktnya pedagang yang ada di sana. Hanya ada satu warung di dekat pantai.

Bagi yang bermain air di pinggir pantai tidak perlu gelisah untuk membilas. Di sekitar tempat parkir kendaraan, terdapat 3 kamar mandi dengan air tawar untuk membilas. Tarif untuk sekali mandi pun cukup terjangkau, hanya dengan 2.000 rupiah saja per orang. Namun, sangat disayangkan karena minimnya penerangan di sana. Penerangan hanya bersumber pada lampu badai (lampu teplok) saja, di daerah pantai sadranan belum tersedia layanan listrik. Pemandangan yang disajikan pada saat senja pun cukup istemewa. Setelah seharian lelah bermain air di pantai, anda akan dimanjakan dengan keindahan langit senja di pantai sadranan.




mari berkunjung dan tinggalkan jejak kaki anda :D
KEEPOURBEACHCLEAN



Oleh : St. Yogi Pradityo
Foto : St. Yogi Pradityo

Tuesday, March 8, 2011

"Ayo Perempuan, Bergerak Berorganisasi dan Bersatu! Lawan Patriarki dan Neoliberalisme!!"

Tepat tanggal 8 Maret 2011, sekelompok organisasi masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Perempuan Indonesia merayakan 100 tahun peringatan Woman's Day di Yogyakarta. Mereka mulai berorasi dari lapangan Abu Bakar Ali dan berakhir di titik nol kilometer. Dalam perayaan ini mereka mengangkat tema "Ayo Perempuan, Bergerak Berorganisasi dan Bersatu! Lawan Patriarki dan Neoliberalisme!!".

Perayaan tersebut menjadi sebuah akumulasi kejenuhan dari kaum perempuan ( dalam orasi ) mengenai adanya perasaan tidak seimbangnya posisi antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat, ketidak seimbangan yang tampak dari sebuah sistem patriarki yang semakin subur dalam masyarakat. Selain itu, kebijakan neoliberalisme juga menjadi faktor munculnya ketidak seimbangan. Adanya kebijakan untuk mencabut subsidi, privatisasi dan sistem kerja kontrak mereka anggap sebagai upaya untuk semakin memiskinkan dan memarginalkan kaum perempuan. Hal tersebut nampak di berbagai bidang, beberapa diantaranya adalah bidang pendidikan, bidang kesehatan dan bidang pekerjaan. Ditemukan sebuah fakta dari data Kementrian Pendidikan Nasional, sampai tahun 2009, jumlah buta aksara di Indonesia masih di dominasi oleh kaum perempuan yaitu sekitar 6,5 juta atau 64%. Indonesia juga sempat menempati peringkat yang tinggi di ASEAN mengenai angka kematian ibu di tahun 2007. Dalam orasi juga disampaikan bahwa penyebab kematian adalah anemia yang diderita oleh mayoritas perempuan di Indonesia. Selain itu, menurut mereka budaya patriarki juga berperan membuat kaum perempuan kekurangan gizi karena laki-laki yang lebih utama mendapat gizi.

Dalam momentum Woman's Day ini, Gerakan Perempuan Indonesia menyampaikan sebanyak 13 tuntutan. Tuntutan mereka adalah menuntut diberikannya upah dan kerja layak bagi perempuan, mencabut undang-undang yang diskriminatif ( UU Anti Pornografi ), menuntut negara memberikan hak cuti reproduksi: cuti haid, cuti hamil, dan cuti melahirkan, menuntut negara agar memberi perlindungan pada buruh migran, menuntut negara untuk memenuhi hak Kespro, hentikan diskriminasi berbasis gender, Stop Trafficking, pendidikan gratis, ilmiah,kerakyatan dan berspektif setara gender, menuntut kesehatan gratis dan berkualitas, usut tuntas kasus pelanggaran HAM terhadap perempuan ( kasus perkosaan 98, Jugun Ianfu, dll ), hentikan pemberitaan yang merendahkan dan menyudutkan perempuan ( bias gender ), tolak poligami dan nikah siri,kawin kontrak, dan nikah dini, dan yang terakhir adalah hentikan kekerasan terhadap perempuan.

Akhirnya, sekitar pk 12.oo siang organisasi masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Perempuan Indonesia tersebut mengakhiri orasinya tepat di titik nol km, malioboro, Yogyakarta.

HAPPY WOMANS DAY - 8th of MARCH



Oleh : St. Yogipradityo
Foto : St. Yogipradityo

Tuesday, February 15, 2011

Shaggydog, Puncak Pameran

Untuk kali kedua, selama 3 hari kota Magelang menjadi ramai karena adanya sebuah acara pameran clothing dan distro yang bertempat di gedung Tri Bhakti, Jl. Jend. Sudirman No. 64 A. Pameran tersebut diikuti oleh 62 clothing dan distro dari Magelang dan beberapa dari kota lain. Masih seperti tahun 2010 lalu, Showcase Event Management kembali bertindak sebagai Event Organizer dalam acara tersebut. Acara ini digelar mulai tanggal 11 Februari 2011 dan berakhir pada tanggal 13 Februari 2011.

Acara tersebut tidak hanya sebatas pameran clothing dan distro saja. Namun, dimeriahkan juga oleh acara skateboard, cheer leaders, freestyle BMX dan tidak ketinggal adanya hiburan musik dari beberapa band.

Salah satu band yang mengisi acara tersebut adalah Shaggydog. Pada kesempatan ini, Shaggydog yang telah menjadi duta Orangutan, melakukan kampanye penyelamatan Orangutan dengan membawakan sebuah single terbaru mereka. Band asal Yogyakarta ini sukses menghibur pengunjung yang memadati gedung Tri Bhakti dengan beberapa lagu karya mereka. Shaggydog juga menjadi penutup untuk acara clothing dan distro ini yang telah berlangsung selama 3 hari.


Oleh : St. Yogipradityo
Foto : St. Yogipradityo

Saturday, November 6, 2010

Merapi, tahun 2010

YOGYA - Sudah hampir 2 minggu warga lereng Merapi serta banyak dari kabuparen Sleman, Magelang, dan Boyolali dipontang-panting oleh bencana dasyat. Tradisi gunung ini setiap tahunnya bereruspi menarik perhatian cukup besar. Yang dirasa tahun ini (4-5 Nov 2010) erupsi paling besar dalam kurun waktu 100 tahun terakhir membuat ratusan ribu manusia khawatir akan keadaan esok hari.

Tidak hanya sekitar Merapi, bahkan di Puncak Bogor juga merasakan efek dari erupsi ini. Abu vulkanis terbang hingga Jawa Barat.

Merikut beberapa gambar selama erupsi pertama tahun ini hingga saat ini...





Erupsi pada hari Senin 1-11-2010
dirasakan sangat besar
karena Boyolali hujan abu lebat






Ini debu vulkanik yang masih tersebar di wilayah Jogja
karena hujan abu bercampur pasir semalam (4-11-2010)
Di Simpang 4 ringroad jl.Magelang




Pagi ini kondisi merapi masih berbahaya
Semburan awan panas diperkirakaan
setinggi 3km membunmung tinggi
diatas merapi



Oleh : DAMIAN RISANDRA
Foto : Damian Risandra


Awan Tebal Setinggi Gunung di atas Merapi

YOGYAKARTA- Tampak awan tebal membubung tinggi hingga sama tinggi dengan gunung Merapi itu sendiri. Pemandangan ini tampak Sabtu (6/11) pukul 05.00 sesaat setelah luncuran awan pijar dan suara dentuman yang terdengar hingga radius 15 kilometer.

Walau begitu, kondisi itu sudah lebih baik karena beberapa menit sebelumnya signal ponsel putus-putus terganggu oleh aktivitas Merapi.

Jalan Kaliurang pagi ini masih sepi hanya beberapa kendaraan yang melintas turun dari arah Merapi. Mobil mobil itu adalah tim evakuasi.

Beberapa Brimob dan polantas tetap menutup akses jalan dari Yogyakarta menuju Merapi.

Baru saja ada tiga orang yang memaksa naik ke Merapi dengan alasan akan memberi pakan ternak dan melihat kondisi di dusunnya.

Polisi yang berjaga melarang warga yang naik sepeda motor itu tapi terus ngotot dan mengatakan bahwa keperluannya sangat mendesak tak bisa ditunda.

Karena terus ngotot dan bersikeras, akhirnya tiga warga itu berhasil menerobos jalan Kaliurang untuk naik ke dusun mereka yang berada di radius berbahaya.

Hingga pagi ini debu abu masih mengotori jalan Kaliurang walau sudah ada hujan yang membawa abu itu menjadi lumpur. *


Source : Tribunnews.com
Foto : Damian Risandra

Saturday, September 4, 2010

"SEKUMPULAN REKAMAN YANG TAK BERGERAK DARI 2010"

Suasana kemeriahaan saat malam takbir di Jl. Brigjend Katamso, Yogyakarta. Pawai ini diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat dari berbagai daerah

Ribuan warga Yogyakarta mendengarkan ceramah setelah mengikuti Sholat Ied yang digelar di alon-alon utara

TOLONG FOTO SAYA, AYAH
Setelah selesai menjalankan Sholat Ied, tampak duduk bersantai seorang ayah dan anak untuk berfoto di alon-alon utara, Yogyakarta

PENIKMAT FAJAR
Pedagang nasi kuning yang memulai aktifitas sejak dini hari di sekitar pasar Kranggan, Yogyakarta

SEADANYA
Lokomotif tua dengan gerbong pengangkut barang yang melintas di sebuah rel stasiun Lempuyangan, Yogyakarta

NEXT TRICK
Salah satu penampilan peserta "game of skate" dalam perayaan skate day 21 Juni

SENDRATARI MAHAKARYA BOROBUDUR
Pertunjukan Sendratari Mahakarya Borobudur yang dimainkan oleh seniman-seniman tari dari beberapa sekolah seni


OVERLOAD PEDICAB
Becak dengan muatan yang tidak sewajarnya melintas di kawasan malioboro

LINTASAN REZEKI CANGKRINGAN
Salah satu lokasi penambangan yang cukup digemari oleh para penambang pasir
dan masih bertahan hingga saat ini

Pasukan "marching" dari kraton yang ikut meramaikan pembukaan FKY 2010





"SEKUMPULAN REKAMAN YANG TAK BERGERAK DARI 2010"
Oleh St.Yogipradityo

Monday, June 14, 2010

Kecil dan Terkucil


Di tengah kampung dan sedikit terkucilkan, sebuah bangunan yang memiliki ukuran 5,25 x 5,25 m dengan tinggi 7,75. Secara administrasi Candi Gebang terletak di desa Gebang, Kalurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Sedangkan secara astronomis, bangunan Candi Gebang berada pada 110˚ 24’ 53.62”BT dan 07˚ 45’ 04.01”LS.

Pada bulan November 1936 seorang penduduk desa sedang menggali tanah untuk mencari batu untuk bahan bangunan, tetepi cangkulnya justru menemukan sebuah arca batu yakni arca Ganesha. Penemuan ini kemudian ditindak lanjuti oleh Dinas Purbakala dengan melakukan sebuah ekskavasi arkeologi. Dari penggalian ini diketahui bahwa di lokasi temuan arca Ganesha tersebut ternyata terdapat sisa sebuah bangunan candi yang telah runtuh dan terpendam tanah. Selain temuan berupa bangunan juga ditemukan sejumlah artefak-artefak lain. Diantaranya adalah wadah gerabah, kotak batu berlubang (peripih), lingga serta sejumlah arca dewa.

Candi Gebang merupakan candi bercorak Hindu. Bangunan candi menghadap ke arah timur dengan satu bilik tanpa tangga masuk. Di dalam bilik tersebut terdapat sebuah Yoni. Di sisi kanan pintu masuk terdapat arca Nandiswara. Nandiswara adalah dewa penjaga arah mata angin. Ia sering dijumpai dengan Mahakala. Untuk arca Mahakala di Candi Gebang seharusnya berada di sisi kiri pintu masuk tetapi arca ini telah hilang semenjak candi ditemukan. Penamaan candi yang ditemukan pada tahun 1936 ini didasarkan pada lokasi candi itu berada, yakni di desa gebang. Penamaan sebuah candi selain dari keberadaannya, candi juga bisa dinamai berdasar legenda yang dikenal oleh masyarakat atau juga didasarkan pada penyebutan dari sebuah prasasti. Pada saat pertama kali ditemukan, candi gebang dalam kondisi runtuh total hanya tersisa bagian kaki. Tampak jika candi gebang juga tertimbun endapan lahar merapi. Di wilayah yk cukup banyak ditemukan bangunan candi yang tertimbun oleh endapan vulkanik, diantaranya candi kedulan, candi sambisari, candi kadisoka, serta candi morangan. Masa pendirian candi gebang belum bisa diketahui dengan pasti. Hanya berdasar ciri arsitekturnya, agaknya candi gebang didirikan dari periode yang tua, yakni sekitar tahun ± 730 hingga 800 Masehi.

Ciri arsitektur tersebut tampak pada relief kepala manusia di bagian atap candi yang seolah-olah melongok dari sebuah jendela. Ciri semacam ini dinamakan dengan kudu. Relief kudu juga dijumpai pada candi bima di kompleks percandian dieng.

Sebagai upaya pelestarian peninggalan sejarah dan budaya, maka di tahun 1937 hingga 1939 Candi Gebang dilakukan pemugaran oleh Dinas Purbakala ( Oudheid Dienst ) yang dipimpin oleh Prof.DR.Van Romondt. Pada bulan November 1989 kepala arca Nandiswara telah dicuri. Hingga saat ini masih belum ditemukan. Setelah selesai dipugar tahun 1940, terlihat bahwa sejumlah arca pengisi relung pada tubuh bangunan kosong yakni di relung candi sisi utara dan selatan. Hanya di sisi barat saja yang berisi arca Ganesha yang duduk di atas lapik berbentuk Yoni. Ganesha merupakan dewa penghilang segala marabahaya.


Oleh : S. Yogi Pradityo

(sumber : Balai informasi candi gebang)

Foto : S. yogi Pradityo

Thursday, May 20, 2010

Pusatnya YOGYAKARTA


TUGU - Biasa disebut sebagai pusatnya kota Yogyakarta. Tidak hanya sebagai pusat garis lurus antara gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Kerajaan Pantai Selatan. Tapi memang juga sebagai pusat perhatian wisatawan.

Bangunan yang berdiri menantang ini berada di tengah smpang empat antara jl. MAngkubumi, jl. Diponegoro dan jl. AM Sangaji. Gemerlap saat malam hari.

Diperkirakan Tugu ini memang benar-benar berada pada titik pusat garis lurus Utara dan Selatan. Yang bila ditarik garis lurus akan mengait puncak Gunung Merapi - Keraton Yogyakarta - Kerajaan Nyi Roro Kidul di pantai Selatan.

Kearah Utara lurus akan tepat menuju puncak Merapi. Kearah Selatan akan persis mencapai pantai Parang Tritis. Kearah Barat akan sampai Godean. Dan jauh tepat di Barat hingga Keraton Surakarta, Solo.

Pada 2 alun-alun kota Yogyakarta yang terletak di utara dan selatan keraton, memiliki 2 buah beringin raksasa tiap alun-alunnya. Pada tiap alun-alun terpasang 2 beringin itu berjajar barat-timur. Dan bila Tugu ditarik keselatan, garisnya akan tepat melewati tengah-tengah kedua pasangan pohon beringin ini.

Disebut sebagai pusat kota pelajar ini juga karena memang sangat sering dikunjungi manusia-manusia gila foto diri. Paling tidak 5 tahun terakhir ini Tugu menjadi tempat ajang berjepret ria oleh banyak orang. Bergaya di lingkarannya, dan kemudian terdokumentasilah kegiatan mereka di kamera masing-masing.

Setiap malam tidak kurang dari 50 orang berdatangan slih berganti untuk mengabadikan diri mereka di depan bangunan megah perkasa milik kota Gudeg ini. Dan tidak hanya memotret, mereka juga sekedar mengobrol bersama kawan dan sanak saudara.

Beberapa kali peremajaan Tugu dilakukan. Ini dimaksudkan untuk menarik minat wisatawan untuk hadir menyaksikan peninggalan Sri Sultan HB IX. Dan saat ini sudah tercatat empat kali renovasi dan medofikasi yang dilakukan pemkot setempat.

Ada pepatah baru di tahun milenium ini, "Jangan bilang pernah ke Jogja kalau anda tidak punya foto diri di Tugu Jogja". Penasaran dengan kemolekannya? Silahkan segera daftarkan Tugu di list trip anda selanjutnya.



Oleh : Damian Risandra
Foto : Damian Risandra

Cerdas ala Efek Rumah Kaca


Band indie dari Jakarta yang mendokumentasikan setiap momen kehidupan sehari-hari.

Efek Rumah Kaca berbicara tentang konsumerisme di "Belanja Terus Sampai Mati", fotografi di "Kamar Gelap", politik pada "" Jalang, "Di Udara", “Jangan Bakar Buku", lingkungan di "Efek Rumah Kaca" dan 'Hujan Jangan Marah " , psikologi pada "Melankolia" dan "Insomnia", industri musik di "Cinta Melulu", dan banyak lagi.

Dibentuk pada tahun 2001, Efek Rumah Kaca adalah musik dipengaruhi oleh banyak sekali musisi atau band dari berbagai genre dan era, Jon Anderson, Sting dan The Police, The Smiths, Radiohead, The Smashing Pumpkins, dan banyak lagi. Banyak yang menyebutkan bahwa warna musik Efek Rumah Kaca tergolong dalam post-rock, bahkan adapula yang menyebutkan shoegaze sebagai warna musik mereka. Tetapi, Efek Rumah Kaca adalah pop, karena mereka tidak mengunakan banyak distorsi dalam lagu-lagu mereka seperti selayaknya musik rock.

"Cinta Melulu", sebuah cerminan industri musik Indonesia yang didominasi oleh lagu-lagu cinta dengan musik stereotip, menjadi hit besar di Indonesia. Lagu tersebut membawa Efek Rumah Kaca ke jalan, tur ke kota-kota di Indonesia dan meraih berbagai penghargaan. "Cinta Melulu" diberikan Song "Indonesian Best of 2008" oleh radio bergengsi di Indonesia.

Efek Rumah Kaca layak disebut sebagai sebuah band indie terbaik saat ini, media-media musik menjulukinya sebagai ”band yang cerdas”, ”sesuatu yang berkualitas sekaligus ’menjual’”, atau bahkan ”penyelamat musik Indonesia”. Desember 2008 Efek Runah Kaca merilis album kedua mereka, "Kamar Gelap". Dalam dua minggu saja, beredar nasional, album ini telah terjual lebih dari 3000 eksemplar.

Efek Rumah Kaca adalah Cholil (vokal / gitar), Adrian (bass, vokal latar), dan Akbar (drum / vokal latar)



Oleh: S. Yogi Pradityo

Sunday, May 9, 2010

Timang, surganya nelayan lobster

Perjalanan 3 jam dari Jogja, melewati jalan yang meliuk-liuk serta menerbas perbukitan. Menerjang jalan bebatuan, melunjak tampak karang besar di tengah laut.

Ya itu lah sedikit gambaran yang bisa dikata-katakan untuk sebuah nama "Timang". Timang sendiri adalah nama daerah di pesisir pantai selatan, tepatnya di Gunung Kidul selatan kota Wonosari.

Timang masih segaris dengan pantai-pantai selatan Gunung Kidul lainnya, seperti Sundak Drini Baron Kukup dan Krakal. Tepat berada di sebelah timur pantai sundak, dengan berjalan sekitar 15 menit.

Yang indah dari Timang bukanlah pantainya, melainkan pemandangan pesona alam yang jarang ditemui di sepanjang pantai selatan Jawa. Kita akan berada di atas puncak gunung batu, dan menghadap ke selatan akan tampak karang besar yang terpisah lautannya berjarak 100m dari bibir gunung batu.

Setiap harinya tempat ini digunakan oleh orang-orang untuk mencari lobster. Kata mereka (para pencari lobster), disini hasilnya besar-besar dan berisi. Mudah untuk mendapatkannya. Mereka akan berada di tengah-tengah antara gunung batu dengan karang, yang disambung dengan sebuah jembatan gantung sangat sederhana. Dioperasikan manual oleh manusia.

Di kanan kiri gunung batu ini ada 2 pantai yang juga pasir putih. Cukup sepi, tidak banyak pengunjung. Sebenarnya dua pantai ini tidak kalah indah dari pantai lain. Tapi mungkin menjadi tidak terekspose karena untuk menuju kemari sangat sulit medan jalannya.

Tidak akan kecewa bila anda adalah pecinta pesona keindahan alam. Segera mencoba untuk menikmatinya...


Oleh : Damian Risandra

Kenali dan Cintai

Tari Serimpi Sangopati
Sekarang, segala sesuatu telah berkembang dengan cepat dan mudah. Sesuatu hal yang menjadi kebiasaan di masa lampau telah banyak ditinggalkan mungkin karena dianggap kuno. Padahal tanpa kita sadari, sesuatu yang telah kita tinggalkan tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga di masa lampau dan justru dapat dijadikan sebagai sebuah kebanggaan saat ini. Semakin lama, justru semakin luntur dan mungkin mereka akan menghilang.

Sebuah tarian, sebuah warisan yang sedikit terkikis dengan adanya perkembangan yang begitu hebat. Yogyakarta mempunyai tarian yang berharga di masa lampau, tetapi sekarang tidak banyak generasi muda yang melestarikan budaya tari dan bahkan mengetahui tentang tarian yang ada. Salah satu jenis tarian yang ada di Yogyakarta adalah tari Serimpi. Tarian ini diiringi oleh gamelan Jawa dengan gerakan tangan yang lambat dan gemulai. Menilik dari namanya, Serimpi bersinonimkan bilang empat. Oleh karena itu, tari Serimpi kebanyakan ditarikan oleh penari dengan jumlah empat orang. Yang melambangkan empat penjuru mata angi atau unsur dari dunia. Yakni grama (api), angin (udara), toya (air), dan bumi (tanah). Seiring berjalannya waktu, tari Serimpi juga terbagi menjadi beberapa jenis, salah satunya tari Serimpi Sangopati.

Tarian Serimpi Sangopati ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Serimpi sangapati, kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Ketika Pakubuwono IX memerintah kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1861-1893, beliau berkenaan merubah nama Sangapati menjadi Sangopati.

Ketika itu, sesungguhnya sajian tarian Serimpi tersebut tidak hanya dijadikan sebagai sebuah hiburan semata, akan tetapi sesungguhnya sajian tersebut dimaksudkan sebagai bekal bagi kematian Belanda, karena kata sangopati itu berarti bekal untuk mati. Hal ini dilakukan berkaitan dengan suatu peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau yaitu pemerintah Kolonial Belanda memaksa kepada Pakubuwono IX agar mau menyerahkan tanah pesisir pulau Jawa kepada Belanda. Disaat pertemuan perundingan masalah tersebut Pakubuwono IX menjamu para tamu Belanda dengan pertunjukan tarian Serimpi Sangopati. Oleh sebab itu pistol-pistol yang dipakai untuk menari sesungguhnya diisi dengan peluru yang sebenarnya. Ini dimaksudkan apabila kegagalan, maka para penaripun telah siap mengorbankan jiwanya. Maka ini tampak jelas dalam pemakaian “sampir” warna putih yang berarti kesucian dan ketulusan.Pakubuwono IX yang terkenal sebagai raja pemberani dalam menentang pemerintahan Kolonial Belanda sebagai penguasa wilayah Indonesia ketika itu.


Oleh : S. Yogi Pradityo